header

Sabtu, 15 Maret 2014

The Cuckoo's Caling (Dekut Burung Kukuk)

Sudah lama tak berjamah dengan blog kesayangan ini. aku cuma pengen sharing aja. kalo beberapa minggu kemaren aku beli buku digramedia lampung bersama teman SMAku yang dulu dan sampai saat ini tetap bersahabat karib, namanya ibnu, sering dipanggil iip dari SMA sampai sekarang. karena dari sahabat-sahabat yang lain iip ini terbilang paling ganteng diantara kami, wajar saja dia wanita tulen..hahaha. sorry boy . dikarenakan kami berdua dalam satu kota makanya kami sering bertemu, ini adalah foto kemesraan kami. hoho




ini waktu makan di oblong, Lampung






Ini foto kami jadul dulu hihi


Bersama buku The Cuckoo's Calling

Buku ini aku beli karena buku ini bertema kriminal, karena aku sudah bosan dengan tema percintaan, karena sepanjang sepengetahuanku ceritanya itu tak jauh-jauh beda. ini buku pertama kali aku beli yang menurutku paling tebal haha, buku ini karangan J.K Rowling, kalian pasti tahu kalo buku yang sebelum-sebelumnya yang beliau buat membuat para pembaca terpukau dan keren. nah karena alasan itulah aku beli buku ini, buku yang bergenre novel (emangnya musik) ini adalah novel kriminal pertama yang dibuat  J.K Rowling alias Robert Calbraith. ya sampai saat ini buku ini belum selesai aku baca.

Cuma mau share aja, yaudah dadah aku mau baca lagi.. see youu

KAMU JAHAT

         “Happy Anniversary sayang” Pesan yang aku terima dari kekasihku, Sony. Iya, Hari ini tepat dua tahun aku menjalin kasih dengannya. Hari ini akan menjadi moment special kami, tukar-menukar kado untuk yang kedua kalinya. Tapi aku tak mengharapkan apapun dari kekasihku itu selain tanda keseriusannya terhadapku.

Memang butuh waktu untuk menjalin keseriusan dengan Sony. Sony yang masih berstatus mahasiswa tingkat akhir yang entah kapan akan menyelesaikan skripsinya, yang terbilang tinggal setitik lagi darah penghabisan.
Setelah perceraian ayah dan ibunya, sony sangat tak semangat untuk menyelesaikan skripsinya, tapi aku slalu disampingnya, menyemangatinya dan selalu menjaganya jangan sampai sony berbuat yang tidak-tidak. Memang kejadian perceraian orang tuanya, sony mengalami perubah yang tak selama ini aku kenal. Ia yang tak pernah merokok didepanku, kini berbanding terbalik dan sering kali aku menasehatinya untuk berhenti merokok dan cepat menyelesaikan skripsinya itu.
Sony akan menjadi calon dokter gigi kelak tapi dengan masalah yang dihadapinya sony semakin tak percaya diri untuk menyelesaikan perkuliahannya. Namun hal itu tak membuatku diam tanpa kata dan raga tapi aku selalu mengajaknya tuk mencari sample atau apapun yang berkaitan dengan skripsinya saat hari libur. Karena aku telah bekerja di sebuah rumah sakit sebagai bidan. Yang malam harinya aku dapat bertemu dengan sony. Tapi semakin hari sony semakin semangat untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Sampai akhirnya gelar dokter gigi telah diraihnya. Aku yang semakin hari-semakin merasa hubungan ini harus melangka lebih jauh dan tepat di Anniversary yang ketiga aku mengatakan padanya.
“sampai kapan hubungan kita seperti ini, syg?, aku ingin menikah?”
“tunggu aku  bekerja di tempat yang sama denganmu, sekitar 3 Bulan lagi”
“tapi aku ingin kamu bertemu dengan orang tuaku”
“iya sayang”
Tiga bulan pun telah terlewati dan sony telah bekerja di rumah sakit yang sama denganku, aku sangat senang, kami dapat bertemu setiap hari dan akan melangsungkan pernikahan sekitar 2 Bulan lagi.
Tapi walaupun kami satu kantor tapi sony selalu pulang malam, sedangkan aku pukul 5 sudah pulang bekerja, namun aku percaya padanya karena dia selalu bersama temannya sepekerja, andy.
Seseringnya pulang larut malam, aku terkadang berpikir yang tidak-tidak, apa jangan-jangan sony selingkuh. dan tanpa mengabarinya, aku diam-diam mendatangi kantor ternyata sony tak berada disana, aku hubungi handphonenya, tetap saja tak aktif dan jalan terakhir aku menuju kerumahnya dan sesampainya disana handphone ku terlepas dari tangan melihat sony sedang berciuman dengan Andy.

 Inspirasi Geisha - Kamu Jahat

Senin, 13 Januari 2014

Surat Yang Tak Pernah Sampai (DEE)

suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri.

kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam. tentang dia.


sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dan mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya, untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa.

akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya – dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait.

dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan api dari benda-benda yang ia hanguskan – bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila – beterbangan masuk ke matanya.

semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.


tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta.

kemudian mendamparkan dirilah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati.

betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala. dan itulah tujuan kalian.


kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik. maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. cukup satu.

satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. betapa kamu rela membatu untuk itu.


tapi, hidup ini cair. semesta ini bergerak. realitas berubah. seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar.

hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. kamu, tidak terkecuali.


kamu takut.

kamu takut karena ingin jujur. dan kejujuranmu menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. kata “sejarah” mulai menggantung hati-hati di atas sana.

“sejarah kalian”. konsep itu menakutkan sekali.

sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai sang kekasih impian, sang tujuan, sang inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia.

sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama cinta dan perjuangan yang tidak boleh sia-sia.

kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.


lama baru kamu menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?

sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.


cinta butuh dipelihara.

bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu, entah kapan dan kenapa.

cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan. karena cinta adalah mengalami.

cinta tidak hanya pikiran dan kenangan.

lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. interaksi. perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis.

karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.


kamu ingin berhenti memencet tombol tunda.

kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.


di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa.

kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. kenapa harus kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?

jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

dia yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.


sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai.

tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki yang beranjak pergi yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata “jangan” yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.


ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai.

bagian dirimu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati yang sedahsyat itu.

dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah.

dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.


mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang.

dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus.

atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, bintang selatan. yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. yang mendamba untuk mengalami.

aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu.
surat-surat yang tak pernah sampai.